FORUM DEKAN DAN ADIA DI ERA GLOBAL[1]

Dr. H. Barsihannor[2]

Aviary Hotel Bintaro, Jakarta, 29 Agustus 2018

A. Pendahuluan

Saat ini masyarakat tengah memasuk era digital, sebuah era yang ditandai dengan hadirnya produk-produk teknologi berbasis digital, dimana peran-peran manusia, perlahan namun pasti diambil oleh oleh peran-peran mesin berbasis digital. Tidak heran jika dahulu kita sering berjumpa dengan pengantar surat (Pak Pos), tapi hari ini peran mereka telah diambil oleh mesin aplikasi penghantar pesan (SMS, WA, Messenger, Istagram, dll). Penjaga tol diganti oleh kartu, pegawai travel yang dulu banyak memenuhi kantor travel, saat ini mulai hilang, dan travel pun tutup efek hadirnya aplikasi pencari tiket dengan layanan cepat dan murah. Dulu guru dan dosen menjadi rujukan utama bagi siswa atau mahasiswa yang ingin mencari informasi, saat ini peran mereka juga diambil alih oleh mesin pencari informasi (google). Banyak lagi contoh lainnya yang tidak mungkin dikemukakan satu-persatu di kertas ini. Namun satu hal yang perlu dipahami, era saat ini sudah sangat jauh berbeda dengan era sebelumnya, dan perbubahan ini juga membawa dampak terhadap perkembangan sikap, budaya, dan juga pendidikan.

PTKI sebagai sebuah perguruan tinggi keagamaan di Indonesia juga mengalami perubahan demi perubahan, baik secara institusi, budaya akademik dan juga kurikulum. Perubahan semacam ini jika tidak diantisipasi dengan baik, maka perguruang tinggi keagamaan akan tetap berjalan di tempat karena tidak mampu bersaing di era kompetitif saat ini, bahkan lebih ironis lagi jika PTKI hanya menjadi lembaga pendidikan alternatif bagi mereka yang telah menemukan jalan buntu untuk masuk ke perguruan tinggi umum.

Di sebuah negara yang mayoritas muslim ini, sejatinya PTKI harus menjadi tuan rumah di negaranya sendiri, bukan menjadi lembaga kelas dua atau kelas tiga di tengah masyarakat muslim.  Meski demikian, harus juga diakui bahwa dalam kurun satu decade terakhir ini, peran perguruan tinggi keagamaan cukup signifikan terutama dalam pengembangan sumber daya manusia.

Di Indonesia, sebagaimana diketahui bahwa PTKI tersebar di seluruh pelosok  negeri dengan jumlah mahasiswa yan bervariasi. Besaran PTKI tersebut tentu saja akan menjadikan adanya sumbangan pengembangan SDM yang sangat besar pula.

Berdasarkan kenyataan tersebut, maka tampak bahwa sumbangan dunia pendidikan tinggi Islam bagi kehidupan masyarakat di Indonesia tentu tidak bisa diabaikan. Artinya, bahwa PTKI sudah menjadi bagian penting di dalam proses pemberdayaan masyarakat Indonesia.

Pasca reformasi, peranan PTKI menjadi sangat dominan di dalam percaturan kehidupan sosial, politik dan keagamaan.  Dengan adanya reformasi yang meniscayakan terjadinya mobilitas vertikal, maka banyak alumni PTKI yang kemudian terlibat di dalam dunia politik. Demikian pula di bidang sosial dan keagamaan. Hal ini menandakan bahwa alumni PTKI sesungguhnya memiliki talenta yang sangat baik di dalam aktualisasi diri di tengah kehidupan masyarakat Indonesia.

Memang harus diakui bahwa yang dapat memasuki kawasan seperti itu masih sangat terbatas. Artinya hanya sejumlah kecil dari alumni PTKI yang kemudian bisa mengaktualisasikan perannya di tengah kehidupan sosial dan politik, sebab kebanyakan mereka tentu berada di wilayah keagamaan yang memang menjadi tugas dan fungsinya di tengah kehidupan masyarakat. (Nur Syam; Tantangan Pendidikan Tinggi Islam. Diakses 28 Agustus 2018)

 

B. Tantangan dan Peluang

H.M. Nur Syam (Sekjen Kemenag RI) mengakui bahwa PTKI  masih dianggap sebagai perguruan tinggi kelas dua atau bahkan klas tiga. Di antara hal yang sangat mendasar sebagai tantangan pendidikan tinggi Islam adalah rendahnya daya tampung PTKI yang diakibatkan oleh kurang tersedianya sarana dan prasarana pendidikan. Rendahnya daya tampung tersebut juga terkait dengan perubahan persepsi masyarakat tentang alumni PTKI. Di tengah semakin kuatnya budaya materialism dan konsumerisme, maka semakin banyak anggota masyarakat yang memilih lembaga pendidikan tinggi yang memiliki kedekatan dengan dunia kerja.

Makanya, menurut Nur Syam,  PT yang memiliki program studi (prodi) yang bersentuhan langsung dengan dunia kerja, maka akan laris manis di tengah persaingan global. Karena itu, PTKI yang menawarkan program studi keagamaan tidak dilirik dan  menjadi “terpinggirkan” di tengah persaingan dengan budaya materialism dan dunia pekerjaan. Perubahan respon masyarakat tentunya menjadi variable penting di dalam realitas rendahnya peminat studi agama di PTKI.

Tantangan lainya adalah kualitas layanan pendidikan dan kualitas pendidikannya. Harus diakui bahwa kualitas sarana dan prasarana pengembangan PTKI juga bisa menjadi variable yang menentukan terhadap pelayanan dan kualitas pendidikan di PTKI. Kehidupan global seperti sekarang meniscayakan pentingnya ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan, semisal ICT, kelas multi media, ruang yang nyaman, dan lainnya, dan ini akan menentukan image tentang kemajuan program pembelajaran di PTKI. Jika kelengkapan sarana dan prasarananya rendah, maka akan menghasilkan image yang kurang memadai bagi PTKI dimaksud. (Nur Syam; Tantangan Pendidikan Tinggi Islam. Diakses 28 Agustus 2018)

Armawan menekankan agar PTKI tidak menjadi sebuah lembaga yang hanya sibuk dengan aktivitas yang kurang jelas, lalu mengabaikan tujuan dan fungsinya untuk menjadikan manusia yang bermoral dan berintelektual tinggi. Inilah yang menjadikan tantangan perguruan tinggi islam, yang diharapkan tidak hanya memberikan pendidikan moral anak bangsa tapi juga harus berperan aktif dalam mengembangkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Nama perguruan tinggi islam, suatu lembaga perguruan yang disandingkan dengan nama suatu agama yang penganutnya mayoritas di negeri ini. (Armawan; Tantangan Perguruan Tinggi Islam. Diakses 28 Agustus 2018 )

Tantangan terbesar lainnya yang dihadapi PTKI adalah liberalisasi pendidikan di tengah ketatnya persaingan di antara perguruan tinggi, baik yang di bawah Kementerian Agama (Kemenag) atau Kementerian ristek. Saat ini institusi yang mengembangkan Islamic Studies tidak hanya datang dari lembaga pendidikan tinggi sejenis yang berada dibawah Kementerian Agama semisal persaingan antara UIN, IAIN dan STAIN,  tetapi juga datang dari perguruan tinggi ternama di negeri ini, yang membuka program studi ilmu-ilmu keislaman.  Dan seperti yang dapat dilihat, maka program studi ilmu keislaman yang digelar oleh PTN atau PTS ternama terkadang lebih diminati dibandingkan dengan yang ada di PTKI. Masyarakat kita memang masih melihat kulit dari pada isinya. Meskipun ahli-ahli keislaman atau guru besar keislaman tentu jauh lebih mapan di UIN/IAIN/STAIN akan tetapi, karena “branding” mungkin   masyarakat lebih bangga menjadi lulusan UI atau UNJ atau UGM dalam bidang studi Islamic Studies dibanding dengan alumnus PTAIN. (Lihat Mahariah: Tantangan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) Pasca Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 : Sebuah Potret Politisasi Kearah Liberalisasi dan Komersialisasi Perguruan Tinggi. Diakses 28 Agustus 2018)

Dalam konteks Forum Dekan dan ADIA yang skop dan cakupannya lebih spesifik lagi, maka lembaga ini juga memiliki tantangan dan peluang seirama dengan tantangan dan peluang seperti penulis uraikan di atas. Apa yang digambarkan di atas, langsung atau tidak langsung juga menjadi tantangan Forum Dekan dan ADIA khususnya, untuk menjadi renungan dan refleksi bagi para anggota dalam rangka menata lembaga ini menjadi sebuah lembaga yang berdaya guna dan dirasakan manfaat serta kehadirannya bagi civitas akademika dan stakeholder.

Peluang lembaga ini (Forum Dekan dan ADIA) terbuka lebar untuk mengembangkan sayap dan kiprahnya di tengah masyarakat. Era reformasi dan keterbukaan saat ini memberi peluang kepada siapa saja yang kreatif dan inovatif untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Kesadaran masyarakat akan arti pentingnya pendidikan keagamaan juga menjadi peluang yang strategis bagi lembaga untuk berbenah. Disamping itu, Undang-Undang Pendidikan tahun 2003 dan peraturan pemerintah lainnya tentang kebijakan pendidikan nasional memberi ruang yang saya kepada setiap institusi untuk mengembangkan lembaganya sesuai dengan visi dan misinya.

C. Rancang Bangun Program Forum Dekan dan ADIA

Mengantisipasi perubahan dan dinamika pendidikan yang begitu cepat, maka forum ini sejatinya harus menyikapinya dengan pemikiran dan upaya strategis demi pengembangan institusi (Fakultas dan prodi). Untuk itu, forum ini harus memetakan rencana kegiatan yang dapat mengimbangi dinamika pendidikan dan kehidupan sosial. Dalam kaitan ini Forum Dekan dan ADIA dapat melakukan hal berikut:

1.      Penguatan Lembaga melalui MoU dengan sejumlah lembaga baik internal maupun eksternal (sudah berjalan, khususnya internal)

2.      Implementasi MoU diantaranya melalui joint seminar dan visiting lecturer (sebagian sudah berjalan)

3.      Pelaksanaan Forum Dekan dan ADIA (rutin terlaksana)

4.      Collaborative research

5.      Scientific writing exchange (Sebagian berjalan)

6.      Pendampingan untuk akreditasi jurnal

7.      Pembentukan asosiasi keilmuan/prodi, seperti Asosiasi Dosen Ilmu Sejarah, Bahasa, sastra dan lain-lain.

 

D. Penutup

Segala sesuatu harus dimulai jika ingin sukses. Jangan selalu  melihat kemungkinan kegagalan dalam setiap usaha yang dilakukan, tetapi pemikiran positif dan sikap optimis akan membawa energi kebaikan dalam kehidupan. Niat yang kuat, mental yang baik dan sikap optimisme akan menjadi landasan perjuangan dalam rangka memajukan lembaga ini ke depan. Kita berharap, Forum Dekan dan ADIA menjadi sebuah lembaga yang dapat berkontribusi positif bagi pengembangan lembaga, dan peningkatan kualitas akademik serta mampu memberikan yang terbaik kepada seluruh anggota ADIA dan stakeholder

Samata, 28 Agustus 2018

Barsihannor

[1] Pokok-pokok pikiran disampaikan dalam Forum Dekan dan ADIA yang diselenggarakan pada 29-31 Agustus 2018 di Bintaro Tangerang. FAH UIN Syarif Hidayatullah bertindak selaku host pada kegiatan ini.

[2] Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar dan Ketua Forum Dekan dan ADIA se Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *